Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Upaya Perempuan Berdaya dan Mandiri (25 November – 10 Desember ) 2021

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan kepada seluruh perempuan. Setiap tahunnya, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan hingga tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional.

Dipilihnya rentang waktu tersebut adalah dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM.

Dalam rangka peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan tersebut, PATTIRO Banten bekerja sama dengan YAPPIKA ActionAid telah melakukan kegiatan bersama para Focal point forum perempuan desa dan forum anak desa dalam menyelenggarakan kampanye dengan Tema “Stop Kekerasan Terhadap Perempuan sekaligus Launching Hasil Riset Remaja”. Pesan ini untuk menyuarakan bahwa Undang-Undang mengenai Kekerasan Seksual yang memuat kepastian hukum untuk pencegahan, perlindungan dan pemulihan korban kekerasan seksual telah dinanti dan harus segera diwujudkan.

Peringatan Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Kecamatan Sumur – Pandeglang. Sumber photo : Monica PATTIRO Banten

Berdasarkan Catatan Komnas Perempuan tahun 2021 menyatakan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2020 yaitu 299.911 kasus dimana terdiri atas ditangani oleh Pengadilan Agama dengan jumlah 291.677 kasus; Lembaga Layanan Mitra Komnas Perempuan sejumlah 8.234 kasus; serta Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR) Komnas Perempuan sebanyak 2.389 kasus dengan catatan 2.134 kasus merupakan kasus berbasis gender dan 255 kasus di antaranya adalah kasus tidak berbasis gender atau memberikan informasi.

Proses pelaksanaan kegiatan tersebut telah diikuti sebanyak 90 peserta terdiri atas keterlibatan forum perempuan desa dan forum remaja desa Sumberjaya dan Tamanjaya, perwakilan kader desa, perwakilan BUMDES, KUA Kecamatan, Perwakilan PUSKESMAS Kecamatan, perwakilan Forum Pencegahan Resiko Bencana (FPRB) Desa serta OPD yaitu Kepala Bidang Pemberdayaan Perlindungan Perempuan DP2KBP3A Kabupaten Pandeglang yaitu Ibu Hj. Enong Iroh Rohayah dan Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang yaitu Bapak Dr. Sutoto.

See also  Banten Darurat Corona

Peringatan kampanye tersebut menjadi spesial dimana Focal Point telah menjadi narasumber yang diwakilkan oleh Ibu Fika Natalia (Forum Perempuan Desa Sumberjaya), Ibu Isun Suntiah (Forum Perempuan Desa Tamanjaya) dan Linda Ananta  (Forum Remaja Tamanjaya). Selain itu, juga dikemas dengan tambahan pameran hasil produk usaha komunitas. Berbagai produk hasil komunitas akan ditampilkan dalam kegiatan tersebut.

Adapun produk usaha kecil seperti teng-teng, opak, rempeyek kacang, rempeyek bayam, baso kerupuk, keripik pisang varian rasa coklat dan original, keripik singkong dan telur gabus varian rasa gula aren dan rasa keju. Selain itu, hasil komunitas menjahit seperti tas totebag, lunch bag, kerudung, sarung bantal, daster dan masker kain 2 lapis.

Ibu Fika selaku narasumber mengajak semua kalangan agar membagi peranannya ketika berumah tangga antara peran suami dan peran istri. Karena jika tidak dilaksanakan pembagian peran maka ibu Fika masih melihat adanya hierarki antara kaum laki-laki dan perempuan sehingga menimbulkan kekerasan.

Ibu Fika juga menjelaskan dengan video tiktok hasil kreasi remaja dan ibu-ibu bertujuan untuk lebih dapat dipahami oleh peserta. Kemudian, penyampaian oleh Ibu Isun terkait bentuk-bentuk kekerasan berbasis gender yang mana hasil diskusi bahwa kekerasan saat ini paling dirasa ialah kekerasan fisik dan kekerasan verbal. Kekerasan tersebut juga masih terjadi di Desa Sumberjaya dan Desa Tamanjaya.

Produk UMKM Kelompok pengrajin Ibu – ibu kecamatan Sumur – Pandeglang di Acara 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak. Sumber : Monica PATTIRO Banten

Kemudian, dilanjut sesi penyampaian hasil riset remaja oleh Linda. Riset ini terkait permasalahan seputar remaja perempuan terkait putus sekolah dan pernikahan anak. Dalam penyampaian bahwa angka putus sekolah meningkat ditengah pandemi Covid-19 berbanding lurus dengan angka pernikahan anak yang mengalami peningkatan. Ada berbagai faktor selain dampak pandemi  Covid-19 yaitu faktor budaya, faktor akses untuk menempuh pendidikan dan faktor dukungan baik keluarga dan pihak pemerintah.

See also  Membangun Kesadaran Partisipasi dalam Pengurangan Risiko Kebencanaan

Ibu Hj. Enong Iroh Rohayah dari pemerintah daerah Kab. Pandeglang juga mendorong dan mengajak semua lapisan masyarakat untuk terlibat aktif dalam penghapusan kekerasan perempuan dan anak. Selain itu, tidak menutupi untuk mendorong penghapusan kekerasan terhadap kaum laki-laki juga.

Penulis :

Monica PATTIRO Banten

Read Previous

Senyum Sumringah di Masa Pandemi Kelompok Perempuan Budidaya Jamur Tiram

Read Next

Pembangunan Toilet Sekolah Di Kota Serang Menghabiskan Dana 134 Juta per Unit Minta Diaudit

Leave a Reply

Your email address will not be published.