Guna Menemukenali Peranan Perempuan dan Anak, PATTIRO Banten Bersama YAPPIKA-ActionAid Mengadakan Psikososial.

ERR Program– Dalam rangka mengembalikan kondisi dan menemu-kenali peranan perempuan dan anak di tengah masyarakat, PATTIRO Banten yang bekerjasama dengan YAPPIKA-ActionAid dalam program ERR (emergency response and recovery) menyelenggarakan kegiatan ‘Psikososial Perempuan dan Anak’ pada Jumat (19/06).

Kegiatan tersebut dilaksanakan di dua desa berdampingan yakni Sumberjaya dan Tamanjaya, kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. Dan yang bertindak sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut ialah DP2KBP3A (Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Kabupaten Pandeglang.

Kegiatan psikososial terhadap anak-anak bersama Forum Anak Nasional (FAN) Kabupaten Pandeglang

Pasca peristiwa Tsunami Selat Sunda yang melanda pada 2018 yang lalu, banyak pihak yang menjadi korban. Bukan hanya kerugian material yang dialami, melainkan juga psikis warga turut terdampak. Dan bukan tidak mungkin, selama masa-masa pengungsian hingga kini kekerasan terhadap pihak rentan terus terjadi tanpa ada penanganan khusus terhadapnya. Dan hal ini tentu akan berdampak langsung terhadap penyintas kekerasan baik secara fisik, mental maupun juga seksual.

Maka dalam kegiatan tersebut kembali ditegaskan mengenai macam-macam bentuk kekerasan berbasis gender, diskriminasi dan pembagian peran dalam gender, serta hal-hal seputar kesehatan mental.

Dan dalam kegiatan tersebut juga turut melibatkan Forum Anak Nasional (FAN) Kabupaten Pandeglang guna menghibur anak-anak, yang hingga kini masih menetap di Huntara, baik di Sumberjaya maupun Tamanjaya.

Monica selaku CO (community orginizer) program ERR Banten berharap peserta yang hadir dapat menemukenali peranannya di tengah masyarakat dan secara perlahan dapat pulih dari rasa trauma yang menghinggapi akibat kekerasan yang mereka alami.

“Harapannya mereka dapat mengetahui peranannya di tengah masyarakat, dan paham macam-macam bentuk kekerasan berbasis gender serta tahu alur mekanisme penanganannya jika sewaktu-waktu ada masyarakat sekitar yang mengalami bentuk kekerasan tersebut.” Ujarnya.

Wulan Purnamasari yang juga CO dalam program ERR mengatakan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peserta yang hadir dalam masalah penanganan kesehatan mental (trauma healing).

“Terkait pemahaman kesehatan mental bukan hanya pada saat bencana saja, tapi salah satunya yaitu seperti kasus KDRT atau kasus kekerasan lain. Karena mereka sebagai aktor atau focal point untuk women protection (perlindungan perempuan) jadi setidaknya harus ada pemahaman untuk mengatasi jika ada kasus tersebut” Pungkasnya.

Ibu Afifah salah seorang peserta yang mengikuti kegiatan tersebut mengungkapkan, dirinya merasa teredukasi tentang masalah seputar kekerasan berbasis gender serta seputar trauma healing.

“Alhamdulillah karena adanya kegiatan ini saya merasa terdidik, apalagi masalah KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Jadi saya tahu harus gimana tindakannya. Soalnya saya punya pengalaman sendiri tentang masalah itu”. Ujarnya.