Antara Corona dan Ketenangan Warga Huntara

Pasca diumumkannya kasus pasien positif Covid-19 (corona virus disease-2019) pertama di Indonesia pada Selasa (2/3) yang lalu, tampaknya masyarakat Huntara (hunian sementara) di desa Tamanjaya tidak begitu panik, padahal di lain tempat warga kota terlihat begitu panik menyikapi kasus wabah pandemik tersebut.

Terbukti muncul sebuah fenomena baru yang merebak di tengah masyarakat perkotaan yakni, panic buying attack – pembelian keperluan dalam jumlah yang besar – dengan alasan sebagai bentuk upaya penanggulangan dan persiapan selama wabah pandemik Covid-19..

Sedangkan disisi lain, terlihat guyonan yang nampaknya lazim di tengah pergaulan masyarakat sekitar seputar kata ‘Corona’ yang dipelesetkan menjadi ‘Kolorna’ yang jika kata tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti ‘Kolor nya’ (perlu diingat bahwa warga sekitar umumnya berbahasa Sunda).

Warga sekitar terlihat tidak begitu panik menyikapi kabar tentang mulai masuknya wabah tersebut ke Indonesia, namun bukan berarti mereka mengabaikannya dan tidak menyiapkan persiapan guna menghadapi kemungkinan terburuk kedepannya.

Ibu Wati, salah seorang warga Tamanjaya yang hingga saat ini masih tinggal di Huntara menuturkan bahwa warga sekitar, termasuk dirinya tentu ada rasa kekhawatiran akan adanya wabah pandemik Corona yang mulai masuk dan menyebar di Indonesia. Namun dirinya bersama warga sekitar tetap berusaha tenang. Lantaran kini mereka mendapatkan sosialisasi seputar wabah tersebut, sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan guna mengantisipasi tentang wabah tersebut.

“Takut sih mas, apalagi liat pemberitaan di televisi atau kiriman di grup WA (whatsApps, penj) ini malah dengar anak diliburkan sekolah 2 minggu. Tapi alhamdulillah kita disini ada pendampingan dari lembaga yang ngasih pengertian apa itu korona dan antisipasinya, misal jaga makan, olah raga, rajin cuci tangan,” katanya.

Salah seorang CO (community orginizer) yang juga pegiat PATTIRO Banten yang bertugas dalam ERR Program (emergency response and recovery) di Sumur-Pandeglang, Syarif Hidayat menuturkan bahwa mengenai wabah Covid-19 yang kini sudah mulai masuk dan menyebar di Indonesia, perlu adanya peran pemerintah yang proaktif seperti memberikan sosialisasi pencegahan dan penanganan. Agar tidak ada salah kaprah mengenai wabah virus tersebut.

Menurutnya, masyarakat desa di Sumur-Pandeglang terutama Ujungkulon memiliki kemampuan untuk melakukan pencegahan, namun untuk perkara Covid-19 perlu adanya bentuk pengarahan antisipasi yang jelas.

Salah satu bentuknya ialah, dengan melakukan budidaya tanaman TOGA atau tanaman obat seperti jahe merah misalnya. Dan kini, guna mengantisipasi kelangkaan bahan pangan akibat dari wabah Covid-19, masyarakat sekitar terlebih lagi warga huntara di desa Sumberjaya dan Tamanjaya bersama-sama melakukan penanaman sayur untuk menunjang kebutuhan selama wabah pandemik.


Kontributor : Syarif Hidayat

Editor        : Siti Kholisoh Ahyani dan Taufiq Solehudin